Top

Bahas Teknologi Kebencanaan BPPT Gelar KTN 2019 hingga Technopreneur

bppt

Bahas Teknologi Kebencanaan BPPT Gelar KTN 2019 hingga Technopreneur

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) menggelar Kongres Teknologi Nasional (KTN) 2019. KTN tahun ini mengambil tema “Penguatan SDM IPTEK Sebagai Penghela Pertumbuhan Ekonomi Menuju Indonesia Maju dan Mandiri”.

Kepala BPPT, Hammam Riza mengatakan, topik KTN 2019 fokus pada bidang teknologi kebencanaan, sistem pemerintahan berbasis elektronik, perkeretaapian, serta inkubasi bisnis teknologi.

Keempat tema besar ini sesuai dengan isu aktual dan juga mendukung akselerasi program prioritas pembangunan pemerintah.

“Kongres Teknologi Nasional (KTN) merupakan acara tahunan yang diselenggarakan oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). KTN selain sebagai media penyampaian hasil-hasil inovasi dan layanan teknologi yang telah dicapai juga sebagai media komunikasi intensif antara stakeholder, ruang mediasi antara perekayasa dengan dunia industri serta wujud pertanggungjawaban pada publik terhadap kinerja BPPT, lembaga riset, perguruan tinggi dan industri,” jelasnya.

Lebih lanjut Kepala BPPT mengungkapkan, pada bidang kebencanaan, letak geografis Indonesia yang rawan bencana geologi dan hidrometeorologi sering menimbulkan korban jiwa dan kerugian ekonomi yang besar. Oleh sebab itu, perlu dilakukan percepatan penggunaan teknologi peringatan dini, mitigasi, maupun penanganan darurat dan pemulihan pasca bencana.

“Dalam bencana hidrometeorologi, teknologi peringatan dini bencana yang lebih sistematis, terpadu, dan mudah dipahami oleh masyarakat. BPPT perlu menjadi yang terdepan untuk membangun sebuah sistem peringatan dan pencegahan dini kekeringan dan kebakaran hutan dengan memadukan kapasitas dan kapabilitas yang telah tersedia di berbagai K/L. Teknologi Modifikasi Cuaca untuk mitigasi bencana kekeringan, kebakaran hutan, dan mengurangi curah hujan penyebab banjir,” terangnya.

Untuk bencana geologi, perlu dilakukan pemetaan wilayah berbasis potensi bencana yang akan membantu penataan dan pengelolaan tata-ruang yang lebih tangguh terhadap bencana.

“Teknologi terpadu deteksi dan peringatan seperti teknologi buoy, kabel, maupun radar yang diintegrasikan dengan sistem peringatan dini yang telah tersedia, dengan didukung oleh sistem komunikasi yang berbasis generasi 4.0. Teknologi struktur bangunan yang tahan gempa. Teknologi penyediaan kebutuhan pokok seperti air bersih dan pangan darurat bencana, untuk menangani pasca kejadian bencana,” urainya.

Transportasi merupakan jantung perekonomian dan menentukan kualitas konektivitas perkotaan maupun regional. Pola moda Transportasi di Indonesia umumnya masih didominasi oleh Transportasi Darat non-rel (Bus, Truk, Kendaraan Roda Empat dan Roda Dua), sedangkan Transportasi berbasis Rel berkontibusi hanya 7% untuk penumpang dan 0.6% untuk barang terhadap seluruh moda angkutan secara nasional.

Dengan pertumbuhan penumpang yang meningkat pesat sesuai dengan meningkatnya populasi dan aktivitas ekonomi, maka diperlukan moda transportasi massal berbasis rel yang berkapasitas besar, cepat, dan terjangkau bagi masyarakat. Penggunaan transportasi berbasis rel akan menjadi solusi untuk mengatasi kemacetan juga mendorong penghematan energi dan penurunan polusi udara dari sektor transportasi di Indonesia.

Sumber : techno.okezone.com

No Comments

Post a Comment