Top

Jack Ma Sebut 3 Hal yang Dilupakan Founder Startup

Jack Ma, chairman of Alibaba Group Holding Ltd., gestures as he speaks at SoftBank World 2014 in Tokyo, Japan, on Tuesday, July 15, 2014. As SoftBank Corp. Chief Executive Officer Masayoshi Son pushes for a takeover of T-Mobile US Inc., the Japanese billionaire is asking banks to commit financing for a longer-than-usual amount of time, underscoring the intense regulatory review he faces. Photographer: Kiyoshi Ota/Bloomberg *** Local Caption *** Jack Ma

Jack Ma Sebut 3 Hal yang Dilupakan Founder Startup

Dalam pertemuan dengan CEO American Express Ken Chenault di 2015, pendiri Alibaba Jack Ma mengungkap bagaimana perjalanan kariernya sejak awal. Mantan guru bahasa Inggris tersebut sempat ditolak oleh banyak perusahaan ketika ia melamar pekerjaan, hingga ia menyadari besarnya potensi internet dan akhirnya mendirikan Alibaba.

Dilaporkan Techinasia, berdasarkan pengalaman membangun perusahaan sejak awal tersebut, Ma pun mempunyai tiga tip yang menurutnya penting bagi para pemilik bisnis kecil, termasuk para founder startup.

Belajar dari Kesalahan Orang Lain

Menurut Ma, banyak orang yang cenderung hanya ingin mempelajari kisah sukses dari orang atau perusahaan lain. Program studi MBA pun biasanya hanya mengajarkan kisah-kisah sukses tersebut. Padahal, seorang founder startup justru harus mempelajari kisah startup yang gagal dan mengetahui alasan di balik kegagalan tersebut.

Belajar dari Orang yang Menjalankan Bisnis Serupa

Ma pun melarang untuk hanya belajar dari kisah orang-orang besar seperti dirinya, atau pendiri Microsoft Bill Gates. Para tokoh tersebut terkadang tidak menjalankan bisnis yang serupa dengan apa yang kamu lakukan saat ini, sehingga apa yang kamu pelajari pun menjadi tidak relevan.

“Belajarlah dari tetangga kamu, orang-orang yang melakukan hal yang sama dengan kamu, tapi ia melakukannya dengan jauh lebih baik. Cari tahu mengapa dia bisa melakukan itu,” jelas Ma.

Jangan Menunggu Masalah untuk Melakukan Perubahan

Kebanyakan orang hanya ingin melakukan perubahan apabila perusahaan yang mereka pimpin berada dalam masalah. Sebaliknya, ketika mereka tengah menjalani masa-masa sukses, mereka cenderung terlena dan tidak melakukan apa-apa. Padahal menurut Ma, itu adalah pendekatan yang salah.

Ia mencontohkan orang yang ingin memperbaiki atap yang bocor. Ia seharusnya memperbaiki atap tersebut ketika hari tengah cerah. Apabila ia memperbaiki atap tersebut saat terjadi badai, maka ia justru akan mencelakai dirinya sendiri dan bisa menghancurkan atap yang seharusnya ia perbaiki.

“Itulah mengapa ketika tim saya mengatakan kalau kami tengah menjalani tahun yang baik, justru saat itulah saya merasa harus melakukan perubahan. Dan kamu harus tahu, kalau para startup kecil tidak akan bisa menikmati hari-hari baik seperti itu dalam jangka waktu yang lama,” pungkas Ma. Demikian dilansir Techinasia.

 

Sumber : http://techno.okezone.com

No Comments

Post a Comment